BANYUWANGI - Di saat banyak daerah masih bergulat dengan persoalan sampah, warga Kelurahan Bakungan, Banyuwangi, justru menunjukkan cara berbeda dalam memandang limbah rumah tangga. Bagi mereka, sampah bukan sekadar barang buangan, melainkan sumber manfaat yang bisa mendukung kebersihan lingkungan sekaligus menambah nilai ekonomi keluarga.
Kebiasaan memilah sampah kini menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari masyarakat Bakungan. Dari rumah masing-masing, warga mulai membedakan sampah organik dan anorganik sebelum diserahkan ke Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) Omah Olah Sampah. Langkah sederhana ini menjadi fondasi penting dalam menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat.
Baca juga: Sekolah Rakyat Banyuwangi Hampir Rampung, Progres Tembus 75 Persen, Siap Tampung 1.000 Siswa
Sejak dikelola oleh KSM Joger Blambangan pada Juni 2023, TPS 3R tersebut berkembang menjadi pusat pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Pengelolaannya melibatkan berbagai elemen warga, mulai dari karang taruna, tokoh masyarakat, ibu-ibu PKK, hingga masyarakat umum yang aktif berpartisipasi dalam program pengurangan sampah.
Plt. Lurah Bakungan, Prasetyo Suhartono, mengatakan edukasi kepada warga terus dilakukan agar budaya memilah sampah dapat menjadi kebiasaan yang melekat dalam kehidupan sehari-hari.
"Sampai sekarang edukasi terus kami lakukan. Memang tidak mudah, tetapi harus dibiasakan mulai dari rumah agar memudahkan petugas dalam proses pengolahan sampah," ujarnya saat mendampingi kunjungan Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani ke lokasi, Minggu (7/6/2026).
Saat ini, TPS 3R Omah Olah Sampah melayani sekitar 3.000 warga. Layanannya mencakup pengambilan sampah rumah tangga, pengolahan sampah organik dan anorganik, produksi hasil olahan sampah, hingga program edukasi lingkungan bagi masyarakat.
Setiap hari, fasilitas tersebut menangani sekitar 1,2 hingga 2 ton sampah rumah tangga. Dari jumlah itu, sekitar dua kuintal sampah organik diolah menjadi berbagai produk yang memiliki nilai tambah.
Sampah organik yang telah dipilah dimanfaatkan sebagai bahan pakan maggot, kompos, dan pupuk organik cair. Maggot yang dihasilkan kemudian digunakan sebagai pakan ayam, bebek, dan lele yang dibudidayakan oleh kelompok pengelola. Sebagian hasilnya juga dijual kepada masyarakat sehingga memberikan tambahan pemasukan.
Keberhasilan pengelolaan sampah di tingkat kelurahan ini mendapat apresiasi dari Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani. Menurutnya, Bakungan menjadi contoh nyata bahwa persoalan sampah dapat diselesaikan mulai dari lingkungan terkecil jika masyarakat memiliki kepedulian dan semangat gotong royong.
Baca juga: Tak Perlu Lagi Dirujuk ke Luar Kota, RSUD Blambangan Layani Kemoterapi untuk Pasien BPJS dan Umum
"Bakungan menjadi contoh bagaimana masalah sampah bisa diselesaikan dari tingkat kelurahan. Kuncinya adalah kepedulian dan kolaborasi warga. Praktik baik seperti ini layak direplikasi di wilayah lain," kata Ipuk.
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi terus mendorong desa dan kelurahan untuk memiliki sistem pengelolaan sampah mandiri guna mendukung keberadaan TPS 3R berkapasitas besar yang telah beroperasi maupun yang sedang dibangun di berbagai wilayah.
Menurut Ipuk, semakin banyak sampah yang dapat diselesaikan dari sumbernya, semakin kecil beban pengolahan di fasilitas utama. Dengan keterlibatan aktif masyarakat, sampah tidak lagi menjadi persoalan yang sulit ditangani, melainkan sumber manfaat bagi lingkungan dan ekonomi warga.
Tak hanya fokus pada pengolahan sampah, Kelurahan Bakungan juga menghadirkan inovasi melalui sistem bank sampah digital bernama Abank Sayang atau Bank Sampah Masyarakat Bakungan.
Baca juga: Healing di Kaki Gunung Ijen, Senja AWT Banyuwangi Hadirkan Kuliner, Musik dan Panorama Memikat
Melalui aplikasi tersebut, seluruh aktivitas tabungan sampah warga tercatat secara digital, mulai dari pendaftaran anggota, penimbangan sampah, hingga pencatatan saldo. Saat ini sekitar 140 warga tercatat sebagai nasabah aktif, mulai dari ibu rumah tangga hingga pelajar sekolah dasar.
Warga cukup membawa sampah yang telah dipilah ke TPS 3R untuk ditimbang. Nilai sampah tersebut langsung masuk ke dalam saldo tabungan digital yang dapat dicairkan menjadi uang tunai atau ditukar dengan berbagai hadiah menarik.
Inovasi ini membuktikan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari kebiasaan kecil di rumah. Ketika masyarakat disiplin memilah sampah dan terlibat aktif dalam pengelolaannya, lingkungan menjadi lebih bersih, sementara nilai ekonominya dapat dirasakan langsung oleh warga.
Editor : fuday