SURABAYA | ARTIK.ID - Proyek Strategis Nasional (PSN) berupa reklamasi empat pulau buatan di sepanjang Pantai Kenjeran, Surabaya, terus menuai kecaman dari berbagai pihak. Proyek senilai 72 triliun rupiah tersebut dikhawatirkan akan menimbulkan kerusakan lingkungan yang signifikan.
Legislator PDI Perjuangan DPRD Kota Surabaya, Abdul Ghoni Mukhlas Ni’am, Senin (12/8) mengatakan bahwa dirinya tidak menolak pembangunan secara umum, tetapi menekankan pentingnya kajian yang mendalam terhadap proyek tersebut.
Baca juga: Dari Ziarah Wali 5, Agus Mashuri Dorong Kader Muda NU Sambikerep Jadi Generasi Berkarakter
“Penting untuk menilai dampak negatif dan positif dari proyek ini. Jika dampak negatifnya lebih besar, kami sebagai warga pribumi pasti akan menolak,” ujar Ghoni.
Menurut Ghoni, hasil hearing dengan Komisi C DPRD Kota Surabaya, yang melibatkan pakar lingkungan dan kemaritiman, merekomendasikan agar proyek reklamasi tersebut dikaji ulang.
“Kami perlu menghitung secara cermat dampak terhadap infrastruktur, nilai ekonomi, keragaman hayati, serta kearifan lokal. Semua aspek ini harus dipertimbangkan dengan serius,” tambah Ghoni.
Baca juga: QRIS Parkir Disebut Bisa Masuk ke Jukir Lain, DPRD Surabaya Minta Sistem Dibenahi
Dia menegaskan bahwa kajian terhadap proyek senilai puluhan triliun rupiah itu harus dilakukan secara menyeluruh agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi warga Surabaya.
“Proyek reklamasi ini mencakup sekitar 10,8 km dengan empat pulau buatan. Kita perlu menilai dampaknya secara detail. Kajian tersebut sudah masuk dan disampaikan ke Komisi A,” jelas Ghoni.
Baca juga: Josiah Michael Usulkan Parkir Tepi Jalan Surabaya Gratis, Ini Alasannya..!!
Ghoni menegaskan bahwa dirinya bukan anti pada pembangunan, tetapi pembangunan harus dilakukan dengan memperhatikan kesejahteraan masyarakat.
“Masalahnya bukan hanya lingkungan, tetapi juga dampaknya terhadap petambak, nelayan, dan harga kerang yang mungkin menjadi mahal karena habitat rusak. PSN di Kenjeran ini menghadapi masalah yang sangat kompleks, termasuk aspek lingkungan, budaya, kependudukan, dan mitigasi bencana,” pungkasnya. (diy)
Editor : Fudai