SURABAYA – Ketua Komisi A DPRD Surabaya Yona Bagus Widyatmoko mendorong pengembangan urban farming sebagai salah satu strategi memperkuat ketahanan pangan sekaligus membuka peluang ekonomi produktif bagi masyarakat di tingkat kampung.
Dorongan itu disampaikan Yona saat menjaring aspirasi masyarakat di RT 7 RW 1, Kelurahan Kedurus, Kecamatan Karang Pilang, Rabu (7/10). Dalam kesempatan tersebut, politisi Gerindra yang akrab disapa Cak Yebe itu juga meninjau kebun hidroponik Sri Rejeki Jitu yang dikelola secara swadaya oleh warga.
Menurut Cak Yebe, keberadaan kebun hidroponik tersebut menunjukkan bahwa lahan di lingkungan permukiman dapat dioptimalkan menjadi sumber pangan sekaligus kegiatan ekonomi masyarakat.
Ia menilai pengelolaan kebun Sri Rejeki Jitu memiliki potensi untuk dikembangkan lebih luas, terutama karena hasil panennya telah memiliki jaringan pemasaran hingga supermarket dan pasar modern.
Tidak hanya bernilai ekonomi, hasil panen kebun tersebut juga dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan dan gizi masyarakat sekitar.
“Selain disuplai ke supermarket dan pasar modern, hasil panennya juga didistribusikan kepada balita, ibu hamil, dan lansia di wilayah sekitar. Jadi manfaat urban farming tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga membantu memenuhi kebutuhan gizi warga,” tutur Cak Yebe pada Warta Artik.id
Sebagai bentuk dukungan terhadap keberlanjutan kegiatan tersebut, Cak Yebe memberikan bantuan dana sebesar Rp10 juta untuk menunjang operasional kebun hidroponik Sri Rejeki Jitu.
“Bantuan ini saya berikan untuk mendukung operasional kebun hidroponik Sri Rejeki Jitu. Harapannya, kegiatan yang sudah berjalan ini bisa semakin produktif dan memberikan manfaat ekonomi bagi warga,” katanya.
Selain bantuan dana, Cak Yebe juga menyerahkan empat unit tong komposter kepada warga. Menurutnya, pengembangan urban farming perlu dibarengi dengan pengelolaan sampah organik agar terbentuk ekosistem lingkungan yang saling mendukung.
“Pengelolaan sampah organik juga harus berjalan bersama dengan urban farming. Karena itu, saya memberikan empat unit tong komposter agar limbah organik yang ada bisa dikelola dan dimanfaatkan kembali,” jelasnya.
Cak Yebe juga mendorong warga mengoptimalkan lahan yang tersedia untuk mengembangkan kegiatan produktif lainnya. Salah satu potensi yang dinilainya dapat dikembangkan adalah peternakan ayam petelur.
Pengembangan ayam petelur dapat menjadi bagian dari diversifikasi usaha pangan warga. Dengan demikian, kegiatan produktif di kampung tidak hanya bertumpu pada produksi sayuran hidroponik, tetapi juga dapat menghasilkan sumber pangan lainnya.
“Lahan yang ada jangan hanya dimanfaatkan untuk hidroponik. Kalau masih memungkinkan, bisa dikembangkan untuk ternak ayam petelur sehingga ada diversifikasi usaha dan hasil yang bisa mendukung ketahanan pangan warga,” ujarnya.
Ia menilai model pengelolaan seperti yang dilakukan warga melalui kebun Sri Rejeki Jitu dapat menjadi contoh bahwa ketahanan pangan dapat dibangun dari lingkungan permukiman.
Pengelolaan lahan, pemanfaatan sampah organik, produksi pangan hingga pemasaran, kata dia, dapat dikembangkan secara bertahap sesuai dengan potensi dan kemampuan masyarakat.
“Yang kita dorong adalah bagaimana warga bisa mengelola potensi yang ada di lingkungannya sendiri. Dari hidroponik, pengolahan sampah, kemudian bisa berkembang ke peternakan dan kegiatan produktif lainnya,” tuturnya.
Cak Yebe berharap pengembangan urban farming tidak berhenti pada bantuan, tetapi mampu mendorong kemandirian warga dalam mengelola potensi ekonomi di lingkungannya.
“Harapannya, warga tidak hanya menjadi penerima bantuan, tetapi bisa terus mengembangkan usaha ini secara mandiri. Kalau dikelola bersama dan konsisten, urban farming bisa menjadi kekuatan ekonomi sekaligus mendukung ketahanan pangan di tingkat kampung,” pungkasnya.(rda)
Editor : rudi