Jaga Marwah NU, Dzuriyah Pendiri Serukan Muktamar ke-35 Bersih dan Bermartabat

Reporter : Mohammad

MALANG — Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), sejumlah dzuriyah pendiri NU bersama kiai, habaib, gus, dan ustaz Jawa Timur menyerukan agar seluruh rangkaian muktamar berlangsung bersih, bermartabat, serta terbebas dari praktik politik uang.

Seruan tersebut disampaikan melalui Pernyataan Sikap Dzuriyah Pendiri NU Bersama Kiai, Habaib, Gus dan Ustaz Jawa Timur yang digelar di Hotel Syariah Radho, Malang, Sabtu (22/8/2026).

Baca juga: Gus Rozin Serap Aspirasi PWNU dan PCNU, Dorong NU Lebih Mandiri dan Berdaulat

Sedikitnya 16 ulama, gus, dan habaib hadir dalam pertemuan tersebut. Di antaranya KH Solachul Aam Wahib Wahab (Gus Aam), (putra KH Wahib Wahab sekaligus cucu pendiri NU KH Abdul Wahab Chasbullah), H Abd Wachid Zen (dzuriyah Hasan Gipo yang merupakan Ketua Umum PBNU pertam KH Zainuddin H dari Surabaya; Gus Rozak dan M Habib Taufiq Al Jufri dari Sidoarjo; serta KH Imam Subakir dari Malang.

Dalam pernyataan sikap tersebut, mereka secara tegas menolak segala bentuk politik uang dalam seluruh proses Muktamar ke-35 NU.

Mereka menyerukan kepada seluruh peserta muktamar agar tidak menerima, meminta, maupun memperjualbelikan dukungan dalam bentuk apa pun. Seruan serupa juga ditujukan kepada seluruh calon dan tim pendukungnya agar tidak melakukan praktik politik uang, baik secara langsung, melalui perantara, maupun dalam bentuk transaksi terselubung.

Para peserta muktamar juga diajak menjadikan integritas, moralitas, kapasitas kepemimpinan, keilmuan, keteladanan, rekam jejak khidmah, serta komitmen terhadap kemaslahatan umat sebagai dasar utama dalam menentukan pilihan.

Selain itu, seluruh proses muktamar diharapkan berlangsung dalam suasana ukhuwah, musyawarah, adab, dan kejujuran. Independensi organisasi juga dinilai harus dijaga dengan menolak segala bentuk intervensi dari pihak luar.

Gus Aam menegaskan, seruan tersebut lahir dari keprihatinan para dzuriyah pendiri NU agar organisasi yang didirikan para muassis tidak dicederai oleh kepentingan yang tidak terpuji. “Intinya, kami para dzuriyah pendiri NU tidak ingin NU dicederai dan disusupi oleh hal-hal yang tidak terpuji,” ujar Gus Aam.

Menurut dia, Muktamar ke-35 NU yang akan digelar di lingkungan pesantren KH Wahab Chasbullah harus menjadi momentum untuk menjaga marwah dan martabat organisasi.

“Kita wajib menjaga marwah dan menjaga martabat Nahdlatul Ulama. Kita harus sama-sama menjaga, jangan sampai terjadi money politics sampai dengan selesainya muktamar,” tegasnya.

Muktamar Harus Kembali kepada Khittah Nahdliyah

Sementara itu, H Abd Wachid Zen berharap Muktamar ke-35 NU di Jombang dapat berlangsung secara murni dan kembali kepada khittah Nahdliyah sebagaimana dicita-citakan para pendiri NU.

Ia menekankan pentingnya proses pemilihan yang jujur agar hasil muktamar dapat dipercaya seluruh warga Nahdliyin.“Jangan sampai ada penumpang masuk NU dengan tujuan bukan untuk memakmurkan jamaah, tetapi memakmurkan diri sendiri,” ujarnya.

Wachid berharap seruan tersebut tidak berhenti sebagai dokumen atau sekadar dibacakan dalam forum. Ia meminta seluruh pihak benar-benar menjalankan semangat menjaga 

independensi dan marwah NU selama proses muktamar berlangsung.“Kami berharap seruan ini didengar dan dilaksanakan, tidak hanya dibaca saja,” katanya.

Baca juga: Jelang Muktamar NU ke-35, Rekaman Dugaan Pengondisian AHWA di Palembang Jadi Sorotan

Senada, KH Zainuddin, salah seorang ulama NU Kota Surabaya, menyatakan siap mendukung siapa pun yang nantinya terpilih sebagai Ketua Umum PBNU, selama memiliki komitmen melanjutkan perjuangan para muassis dan pendiri NU.

Menurut dia, NU tidak semestinya dijadikan kendaraan untuk mencari panggung politik maupun kepentingan duniawi.“Siapa pun yang menjadi Ketua Umum PBNU harus melanjutkan perjuangan para muassis dan pendiri NU, bukan mencari panggung politik dunia melalui NU,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa kepemimpinan di NU semestinya dilandasi amanah dan ketulusan, bukan kepentingan pribadi.“Siapa pun yang terpilih adalah amanah karena Allah, bukan karena hubbud dunya. Siapa pun yang terpilih adalah kehendak Allah,” katanya.

Terkait politik uang, KH Zainuddin mengingatkan seluruh peserta muktamar mengenai larangan suap sebagaimana termuat dalam hadis Nabi Muhammad SAW. Ia mengutip hadis dari Abdullah bin Amr yang menyebutkan laknat Allah bagi pemberi dan penerima suap. “Money politics itu ingat laknat Allah. Hukumnya tahu, tetapi diterabas,” tegasnya.

Tujuh Seruan Muktamar Bersih

Dalam pernyataan sikap tersebut, dzuriyah pendiri NU bersama para kiai, habaib, gus, dan ustaz Jawa Timur menyampaikan tujuh seruan:

1. Menolak dengan tegas segala bentuk politik uang dalam seluruh proses Muktamar ke-35 NU.

Baca juga: Jelang Muktamar NU, Gus Yahya Buka Ruang Diskusi soal Mekanisme AHWA

2. Menyerukan kepada seluruh peserta Muktamar agar tidak menerima, meminta, ataupun memperjualbelikan dukungan dalam bentuk apa pun.

3. Menyerukan kepada seluruh calon dan tim pendukungnya untuk tidak melakukan praktik politik uang, baik secara langsung, melalui perantara, maupun dalam bentuk transaksi terselubung.

4. Mengajak seluruh peserta Muktamar menjadikan integritas, moralitas, kapasitas kepemimpinan, keilmuan, keteladanan, rekam jejak khidmah, serta komitmen terhadap kemaslahatan umat sebagai dasar utama dalam menentukan pilihan.

5. Menyerukan agar seluruh proses Muktamar berlangsung dalam suasana ukhuwah, musyawarah, adab, dan kejujuran.

6. Menyerukan kepada seluruh peserta Muktamar untuk menjaga independensi organisasi dan menolak segala bentuk intervensi dari pihak luar.

7. Mengingatkan seluruh pihak mengenai larangan suap, sebagaimana hadis Nabi Muhammad SAW: “La’natullāhi ‘alar-rāsyī wal-murtasyī”, yang berarti, “Laknat Allah kepada pemberi suap dan penerima suap.”

Pernyataan sikap tersebut menjadi pengingat agar Muktamar ke-35 NU tidak sekadar menjadi arena pergantian kepemimpinan, tetapi juga momentum untuk menjaga kehormatan, independensi, marwah, serta nilai-nilai yang diwariskan para pendiri Nahdlatul Ulama.

Editor : Mohammad

Peristiwa
5 Berita Teratas Pekan Ini
Berita Terbaru