Inflasi Jatim April 2026 Melambat ke 0,02%, Dipicu Harga BBM dan Pangan

Reporter : Fudai
SPBU Dokter Soetomo (Istimewa)

SURABAYA - Laju inflasi di Provinsi Jawa Timur pada April 2026 terbilang sangat tipis. Secara bulanan (month-to-month/MtM), angkanya hanya 0,02%.

Capaian ini lebih rendah dibanding inflasi nasional yang berada di level 0,13% (MtM). Bahkan, lebih landai jika dibandingkan Maret 2026 yang sempat menyentuh 0,39%.

Baca juga: Event HJKS 2026, Okupansi Hotel Surabaya Ditargetkan Ikut Melonjak

Statistisi Ahli Madya BPS Jawa Timur, Debora Sulistya Rini, menyebut kondisi ini dipengaruhi banyak faktor. Mulai dari gejolak harga energi hingga pergerakan harga pangan yang belum sepenuhnya stabil.

Menurutnya, April diwarnai berbagai dinamika global. Kenaikan harga energi serta fluktuasi komoditas internasional ikut memberi tekanan pada inflasi di Jawa Timur.

Salah satu pemicu utama adalah naiknya harga BBM non-subsidi, seperti Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex. Kenaikan juga terjadi pada avtur, seiring melonjaknya harga minyak dunia.

Lonjakan harga avtur bahkan menembus lebih dari 70%. Dampaknya, biaya operasional maskapai meningkat dan berpotensi mendorong tarif tiket pesawat serta ongkos logistik.

Di sisi lain, pelemahan nilai tukar rupiah turut berperan. Harga bahan baku impor ikut naik, terutama kedelai yang menjadi bahan utama tahu dan tempe.

Gangguan pasokan global juga tak kalah berpengaruh. Distribusi bahan baku plastik (nafta) dari Timur Tengah terganggu, sementara kelangkaan chipset terjadi akibat tingginya permintaan teknologi berbasis AI.

Akibatnya, harga sejumlah barang ikut terdongkrak. Mulai dari makanan olahan berkemasan plastik hingga produk elektronik seperti ponsel dan laptop.

Faktor lain datang dari kenaikan harga Crude Palm Oil (CPO). Permintaan biodiesel yang meningkat serta potensi El Nino ikut mendorong harga minyak sawit mentah ini.

Harga CPO tercatat berada di kisaran 4.500–4.600 ringgit per ton. Kondisi ini berdampak langsung pada kenaikan harga minyak goreng di pasar.

Sejumlah komoditas tercatat menjadi penyumbang inflasi bulanan. Di antaranya angkutan udara (0,23%), minyak goreng (0,05%), nasi dengan lauk (0,03%), serta laptop/notebook (0,03%).

Baca juga: Perluas BPJS Ketenagakerjaan, Menaker Beri Diskon Iuran untuk Pekerja BPU

Selain itu, tomat, tahu mentah, telepon seluler, tempe, beras, hingga bensin juga ikut memberi andil, meski dengan kontribusi lebih kecil.

Namun, tidak semua harga naik. Beberapa komoditas justru mengalami penurunan dan menahan laju inflasi.

Daging ayam ras, cabai rawit, telur ayam ras, ikan mujair, bawang putih, hingga cumi-cumi menjadi penyumbang deflasi. Penurunan ini dipicu normalisasi harga setelah periode Lebaran.

Meski begitu, sejumlah bahan pangan tetap mengalami kenaikan. Minyak goreng, tomat, tahu, tempe, dan beras masih mencatat inflasi.

Secara tahunan (year-on-year/y-on-y), inflasi April 2026 terhadap April 2025 mencapai 2,85%. Sementara inflasi tahun kalender (year-to-date/y-to-d) berada di angka 1,15%.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan. Disusul sektor perawatan pribadi serta transportasi, terutama emas, angkutan udara, dan beras.

Baca juga: KUR Perumahan Tembus Rp305 Miliar di Surabaya, Libatkan 245 Debitur

Dari 11 kabupaten/kota yang dipantau, hanya dua wilayah yang mengalami inflasi bulanan. Kota Surabaya mencatat 0,37%, sedangkan Kota Malang sebesar 0,05%.

Sisanya justru mengalami deflasi. Kota Probolinggo mencatat penurunan terdalam, yakni 0,65%.

Wilayah lain yang juga mengalami deflasi antara lain Jember (0,44%), Gresik (0,40%), Sumenep (0,40%), Bojonegoro (0,35%), Banyuwangi (0,28%), Tulungagung (0,18%), Kediri (0,12%), dan Madiun (0,02%).

 

 

Editor : Fudai

Peristiwa
5 Berita Teratas Pekan Ini
Berita Terbaru