SURABAYA -- Ketua Komisi A DPRD Surabaya, Yona Bagus Widyatmoko, mendorong penguatan ketahanan pangan dari lingkungan permukiman dengan mengadopsi semangat pengelolaan kampung seperti yang diterapkan di Malaka Jaya, Jakarta Timur.
Baca juga: Achmad Nurdjayanto Serap Keluhan Warga Pogot soal Desil, Dorong Bantalan Sosial APBD 2027
Konsep tersebut mengintegrasikan pengolahan sampah organik, budidaya tanaman pangan, pemanfaatan lahan lingkungan, hingga pemberdayaan masyarakat. Di Surabaya, langkah awal program itu mulai dilakukan melalui distribusi tong komposter ke sejumlah RW di wilayah binaannya di Daerah Pemilihan (Dapil) 5.
Politisi Gerindra yang akrab disapa Cak Yebe itu mengatakan, Perumahan Gunung Sari Indah (GSI), khususnya RW 9 Kelurahan Kedurus, menjadi lokasi awal penerapan program.
"Untuk Perumahan Gunung Sari Indah, tepatnya RW 9 Kelurahan Kedurus sebagai starter untuk mengawali program, saya distribusikan 20 unit tong komposter dengan kapasitas 160 liter," tutur Cak Yebe, Selasa (6/10).
Pengelolaan sampah organik dapat menjadi langkah awal untuk membangun ketahanan pangan dari tingkat rumah tangga. Sampah yang sebelumnya menjadi limbah dapat diolah menjadi bagian dari kegiatan produktif warga.
Program tersebut selanjutnya diarahkan ke sejumlah wilayah lain di Dapil 5 Surabaya. Di antaranya RW 3 dan RW 4 Sumberan, Kelurahan Balas Klumprik, Kecamatan Wiyung; RW 4 Kelurahan Jajar Tunggal; RW 1 Kelurahan Kedurus; RW 3 Kelurahan Jeruk; serta RW 2 dan RW 3 Kelurahan Warugunung.
"Bukan hanya di GSI, tetapi juga di RW 3 dan 4 Sumberan, Kelurahan Balas Klumprik, Kecamatan Wiyung, RW 4 Kelurahan Jajar Tunggal, RW 1 Kelurahan Kedurus, RW 3 Kelurahan Jeruk, serta RW 2 dan 3 Kelurahan Warugunung," ujarnya.
Cak Yebe menjelaskan, Malaka Jaya dipilih sebagai salah satu referensi karena pengelolaan lingkungan di kawasan tersebut tidak berhenti pada persoalan sampah. Pengolahan limbah organik dikembangkan menjadi bagian dari aktivitas pangan sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Sejumlah kegiatan seperti pemanfaatan lahan untuk tanaman produktif, kolam gizi, budidaya ikan lele, hingga pengolahan sampah dapat dirangkai dalam satu ekosistem kampung.
"Konsepnya saya terinspirasi dari Malaka Jaya. Di sana pengolahan limbah organik tidak berdiri sendiri, tetapi bisa dikembangkan menjadi bagian dari ketahanan pangan dan kegiatan produktif warga," jelasnya.
Namun, Cak Yebe menegaskan konsep tersebut tidak akan diterapkan secara seragam di seluruh wilayah Surabaya. Setiap kampung memiliki karakteristik berbeda sehingga penerapannya perlu disesuaikan dengan kondisi lingkungan, luas lahan, serta kebutuhan masyarakat.
Baca juga: Cak YeBe Respon Cepat Warga MBR Tak Mampu Bayar Denda Listrik Rp1.2 Juta Saat Reses
"Tidak harus persis sama dengan Malaka Jaya. Kita sesuaikan dengan kondisi kampung di Surabaya, tetapi prinsipnya sama, bagaimana limbah organik bisa dikelola dan hasilnya kembali memberikan manfaat untuk warga," katanya.
Sebagai tahap awal, Cak Yebe menyiapkan sedikitnya empat unit tong komposter untuk setiap RW yang berminat menjalankan pengolahan sampah organik. Jumlah tersebut dapat disesuaikan dengan luas wilayah serta jumlah RT yang berada dalam satu RW.
"Tiap RW di wilayah binaan saya yang berminat melakukan program pengolahan limbah organik saya distribusikan masing-masing minimal empat tong komposter, bergantung cakupan dan luas wilayah RT masing-masing dalam satu RW," ungkapnya.
Tong komposter yang disalurkan memiliki kapasitas 160 liter. Menurut Cak Yebe, kapasitas tersebut diharapkan dapat mendukung pengelolaan sampah organik secara bersama-sama di tingkat lingkungan.
"Saya memberikan bantuan langsung berupa unit tong komposter per RW sebanyak minimal empat pcs, dengan kapasitas 160 liter atau kapasitas besar," tambahnya.
Dalam rangkaian kegiatan jaring aspirasi masyarakat, dia menyiapkan sekitar 200 unit tong komposter yang akan disebarkan ke RW-RW binaannya di Dapil 5 Surabaya.
Bantuan tersebut diberikan secara swadaya sebagai stimulan agar masyarakat mulai membangun kebiasaan memilah dan mengolah sampah organik dari lingkungan masing-masing.
Baca juga: Reses Anas Karno, Warga Nginden Keluhkan Data Desil Tak Sesuai Kondisi
"Kurang lebih dalam jaring aspirasi kali ini saya akan memberikan bantuan sebanyak 200 unit tong komposter yang dibagikan di RW-RW binaan saya di Dapil 5, secara swadaya dari saya pribadi," katanya.
Cak Yebe menambahkan, keberadaan komposter bukan merupakan tujuan akhir. Peralatan tersebut diharapkan menjadi pemantik bagi warga untuk mengembangkan berbagai kegiatan produktif berbasis lingkungan.
Sampah organik yang telah diolah dapat dimanfaatkan untuk mendukung tanaman pangan, kebun lingkungan, urban farming, maupun kegiatan produktif lain sesuai dengan potensi masing-masing kampung.
"Sampah organik diolah, kemudian hasilnya bisa digunakan untuk tanaman, kebun pangan atau kegiatan produktif lain sehingga ketahanan pangan benar-benar tumbuh dari kampung," tegasnya.
Dia berharap pola pengelolaan lingkungan seperti yang berkembang di Malaka Jaya dapat memberikan inspirasi bagi kampung-kampung di Surabaya. Dengan demikian, program ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada bantuan, tetapi dapat tumbuh melalui partisipasi dan kemandirian warga.
"Harapannya nanti warga tidak hanya menerima bantuan, tetapi bisa mengembangkan sendiri. Kalau sudah berjalan, dari komposter bisa berkembang ke tanaman pangan, budidaya ikan atau kegiatan lain yang mendukung ketahanan pangan," pungkasnya.(rda)
Editor : rudi