Muktamar NU ke-35 di Tambakberas, Maskot, Lounge, hingga 3.000 Mushaf Jadi Pembeda

Reporter : Mohammad

JOMBANG — Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, disebut menghadirkan nuansa berbeda dibandingkan penyelenggaraan Muktamar NU sebelumnya.

Bukan hanya menjadi forum tertinggi organisasi untuk menentukan arah perjalanan NU ke depan, Muktamar kali ini juga membawa sejumlah konsep dan tradisi baru yang dinilai istimewa. Salah satunya karena untuk pertama kalinya Muktamar NU digelar di lingkungan pesantren yang memiliki kaitan erat dengan salah satu tokoh penting sejarah berdirinya NU, KH Wahab Hasbullah.

Baca juga: Muktamar ke-35 NU Dimulai, Tiga Pesan Penting untuk Umat dan Bangsa

Hal tersebut disampaikan Gus A’am Wahib Wahab, yang menilai penyelenggaraan Muktamar ke-35 memiliki sejumlah keunikan yang membedakannya dari Muktamar-Muktamar sebelumnya.

Menurut Gus A’am, pemilihan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas sebagai lokasi Muktamar memiliki makna historis yang kuat. Pesantren tersebut merupakan salah satu pusat pendidikan Islam yang memiliki hubungan erat dengan KH Wahab Hasbullah, tokoh yang dikenal sebagai salah satu inisiator, pendiri, sekaligus penggerak NU.

“Ini Muktamar yang istimewa, luar biasa dan tampil beda dibandingkan Muktamar sebelumnya,” ujar Gus A’am.

Digelar di Pesantren KH Wahab Hasbullah

Keistimewaan pertama, kata Gus A’am, terletak pada lokasi pelaksanaan Muktamar. Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas bukan sekadar tempat berlangsungnya agenda organisasi, tetapi juga memiliki nilai sejarah yang kuat bagi perjalanan NU.

Menurut dia, momentum Muktamar ke-35 menjadi semakin bermakna karena digelar di lingkungan pesantren yang menjadi bagian dari sejarah perjuangan KH Wahab Hasbullah.

“Tempat ini memiliki hubungan erat dengan KH Wahab Hasbullah, inisiator, pendiri dan penggerak NU,” katanya.

Bagi Gus A’am, aspek sejarah tersebut membuat Muktamar ke-35 memiliki atmosfer tersendiri. Forum organisasi tidak hanya menjadi ajang membahas masa depan NU, tetapi sekaligus menghadirkan kembali ingatan terhadap akar sejarah organisasi yang lahir dari tradisi pesantren.

Maskot dan Lounge Jadi Hal Baru

Selain lokasi yang sarat sejarah, Muktamar ke-35 juga menghadirkan sejumlah inovasi yang disebut belum pernah ditemukan dalam penyelenggaraan Muktamar sebelumnya.

Salah satunya adalah kehadiran maskot dan lounge Muktamar.

Konsep tersebut dinilai memberikan warna baru dalam penyelenggaraan forum besar NU. Lounge menjadi salah satu ruang yang dirancang untuk memberikan suasana berbeda bagi para peserta dan tamu yang hadir selama Muktamar berlangsung.

Gus A’am menyebut kehadiran maskot dan lounge sebagai salah satu unsur unik dan spesial dalam Muktamar ke-35.

Menurut dia, inovasi tersebut menunjukkan bahwa penyelenggaraan Muktamar tidak hanya berorientasi pada agenda persidangan organisasi, tetapi juga memperhatikan pengalaman para muktamirin dan tamu yang datang dari berbagai daerah.

3.000 Mushaf Al-Qur'an Dibagikan kepada Muktamirin

Hal lain yang disebut menjadi pembeda adalah pembagian goody bag kepada para muktamirin.

Tidak sekadar berisi suvenir, goody bag Muktamar ke-35 juga dilengkapi mushaf Al-Qur'an. Sebanyak 3.000 mushaf disiapkan untuk dibagikan kepada peserta Muktamar.

Baca juga: Muktamar ke-35 NU, KH Yahya Dorong Sinergi Pemerintah dan NU untuk Hadirkan Manfaat bagi Rakyat

Gus A’am menyebut pembagian mushaf Al-Qur'an tersebut menjadi sesuatu yang istimewa karena, menurutnya, tradisi serupa belum pernah dilakukan dalam Muktamar NU sebelumnya.

“Sejak Muktamar pertama sampai ke-34 belum pernah terjadi pembagian Al-Qur'an. Di Muktamar ke-35 inilah seluruh muktamirin akan mendapatkan goody bag yang di dalamnya terdapat mushaf Al-Qur'an,” ungkapnya.

Pembagian mushaf tersebut sekaligus memberikan pesan simbolik bahwa Muktamar NU tidak hanya berbicara mengenai persoalan organisasi dan kepemimpinan, tetapi juga membawa semangat keagamaan yang menjadi fondasi utama Nahdlatul Ulama.

Atraksi Drone Bentuk Nama KH Wahab Hasbullah

Kemasan Muktamar ke-35 juga dipersiapkan dengan atraksi visual yang menarik perhatian.

Pada Jumat malam, 28 Agustus 2026, akan digelar atraksi drone dengan formasi khusus. Ratusan drone akan membentuk nama KH Wahab Hasbullah, tokoh yang memiliki peran penting dalam sejarah kelahiran dan perkembangan NU.

Atraksi tersebut diharapkan menjadi salah satu momen yang mengesankan selama rangkaian Muktamar.

Selain menjadi hiburan visual, formasi drone yang membentuk nama KH Wahab Hasbullah juga memiliki pesan simbolik. Nama salah satu pendiri dan penggerak NU itu dihadirkan di tengah perhelatan organisasi sebagai pengingat terhadap sejarah dan jasa para pendiri.

Dihadiri Presiden dan Wakil Presiden

Dari sisi kenegaraan, Muktamar ke-35 NU juga mendapatkan perhatian besar. Presiden RI Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dijadwalkan hadir dalam pembukaan Muktamar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Kamis (27/8/2026).

Baca juga: Live Streaming Muktamar NU Disela Iklan Tak Pantas, Muktamirin Kecewa

Kehadiran kepala negara dan wakil kepala negara tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam rangkaian pembukaan Muktamar.

Selain Presiden dan Wakil Presiden, Muktamar juga dihadiri para kiai sepuh, jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU), Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), serta Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCI NU).

Sejumlah menteri Kabinet, gubernur, bupati, dan wali kota dari berbagai daerah juga disebut turut hadir dalam perhelatan tersebut.

Bukan Sekadar Muktamar, tetapi Napak Tilas Sejarah

Dengan berbagai inovasi tersebut, Gus A’am melihat Muktamar ke-35 bukan sekadar forum rutin lima tahunan NU. Lokasi, konsep acara, hingga berbagai simbol yang dihadirkan dinilai mempertemukan masa lalu, masa kini, dan masa depan NU.

Penyelenggaraan di Tambakberas membawa Muktamar kembali ke salah satu sumber sejarah penting NU. Sementara inovasi seperti maskot, lounge, pembagian mushaf Al-Qur'an, hingga atraksi drone menunjukkan wajah penyelenggaraan yang lebih modern.

Di tengah dinamika organisasi dan tantangan zaman, Muktamar ke-35 akhirnya menjadi panggung untuk menegaskan bahwa tradisi dan inovasi dapat berjalan beriringan.

Dari pesantren Tambakberas, sejarah NU kembali diingat, tradisi pesantren dirawat, sementara wajah baru organisasi terus diperkenalkan kepada publik.

Itulah yang membuat Muktamar ke-35 NU di Jombang disebut istimewa, unik, dan tampil beda dibandingkan penyelenggaraan Muktamar sebelumnya.

Editor : Mohammad

Peristiwa
5 Berita Teratas Pekan Ini
Berita Terbaru